Mantan Wabup Bantul Sumarno Prs Berpulang, Aksi Simpati Permudah Keluarga yang Berduka

Suasana pemberangkatan jenazah Drs. H. Sumarno Prs di Makam Suci Sribit, Wonodoro, Mulyodadi, Bambanglipuro, pada Selasa (15/9/2026) pukul 14.00 WIB diwarnai momen yang tak biasa. Bupati Bantul Abdul Halim Muslih hadir, menyerahkan langsung Kutipan Akta Kematian kepada pihak keluarga beberapa saat sebelum jenazah diberangkatkan. Dokumen kependudukan itu sudah rampung diproses dan diserahkan, sehingga keluarga yang sedang berduka tak perlu lagi repot mengurus administrasi di tengah masa berkabung.

 

Sumarno Prs dikenal luas sebagai sosok yang pernah mendampingi kepemimpinan Bantul selama dua periode, yakni 2005-2010 dan 2010-2015. Beliau menghembuskan napas terakhir di RSUD Panembahan Senopati Bantul pada Senin (14/9/2026) pukul 16.15 WIB, dalam usia 78 tahun. Kehadiran Bupati sekaligus penyerahan akta pada hari pemakaman itu pun menjadi bentuk penghormatan tersendiri bagi purnabakti yang pernah turut membangun daerah selama satu dekade, sekaligus menegaskan bahwa layanan ini berlaku sama untuk siapa saja, baik warga biasa maupun tokoh yang pernah memimpin daerah.


Layanan kilat semacam ini sebenarnya bukan hal baru di Bantul. Inovasi bernama Aksi Simpati atau Akta Kematian Sehari Jadi ini sudah berjalan sejak awal 2018, setelah melalui masa uji coba pada November 2017. Artinya, hampir delapan tahun sudah program ini setia mendampingi warga Bantul yang sedang kehilangan anggota keluarga. Alurnya sederhana namun terasa manusiawi: RT atau Dukuh cukup mengirim laporan kematian warga beserta berkas persyaratan lewat WhatsApp ke petugas registrasi desa, lalu dokumen langsung dicetak hari itu juga dan diantar ke rumah duka sebelum jenazah berangkat ke pemakaman. Kartu Keluarga dan KTP ahli waris yang statusnya berubah pun otomatis ikut dicetak, asal masih dalam satu KK, sehingga keluarga tak perlu bolak-balik mengurus dokumen susulan di hari-hari berikutnya.

 

Inovasi ini lahir untuk menjawab kondisi geografis Bantul yang mencapai 508,65 km2 dengan 17 kecamatan, 75 desa, dan 933 dusun. Kondisi geografis itu membuat sebagian warga yang tinggal jauh dari kantor Instansi Pelaksana enggan mengurus dokumen kependudukan secara langsung. Langkah kecil Disdukcapil Bantul lewat Aksi Simpati ini membuktikan bahwa birokrasi yang baik tak selalu identik dengan meja dan antrean panjang, melainkan bisa hadir dalam bentuk empati yang tepat waktu. Dan pada akhirnya, itulah wajah pelayanan yang ingin terus dijaga Bantul hadir bagi warganya, sampai ke titik yang paling dibutuhkan. (ocd)